Oleh Febty Febriani
14 Jul 06 08:23 WIB
Sumber : EraMuslim.com
Akhir Mei 2006
Mbak Fety, dah dapat kos di Bandung? Kapan rencananya ke Bandung, mbak. Ntar klo ke Bandung sms Asni yah, mbak. Nanti Asni temanin cari kos, begitulah kira-kira bunyi sms yang mampir di handphone saya pada suatu malam.
Dari Asni. Dia pernah menjadi bagian cerita hidup saya selama sebulan ketika saya masih berada di Yogya. Sms dari Asni malam itu adalah sebuah berkah untuk saya. Bagaimana tidak, Allah SWT menakdirkan saya bekerja di Bandung padahal saya tidak mempunyai saudara di Kota Kembang itu. Sayapun juga tidak mengenal Bandung.
Benarlah, dia menepati janjinya. Hari itu, bersama dengan temannya, dia menjemput saya di agen travel. Dia dan temannya pula yang menemani saya berjalan di terik matahari, keluar gang masuk gang, untuk mencari kos yang tepat buat saya. Mereka pula yang menemani saya membeli perlengkapan kos. Bahkan, Asni menawarkan saya menginap saja di kosnya karena dia takut saya kesepian di kos saya yang baru. Mereka memperlakukan saya layaknya saya adalah kakak mereka.
Saat menuju ke kosnya itu, saya baru mengetahui kalau perjalanan dari kosnya menuju ke tempat dia menjemput saya memakan waktu sekitar satu jam. Dia kos di Jatinangor sedangkan tempat agen travel yang membawa saya dari Jakarta menuju Bandung berada di sekitar kampus ITB. Terharu, hanya kata itu yang memenuhi ruang hati saya.
***
Awal Juni 2006
Kereta ekonomi jurusan Jakarta-Serpong yang berangkat dari stasiun Tanah Abang penuh sesak. Saya berdiri di salah satu pojok kereta. Di sekitar sayapun orang-orang dengan beraneka ragam tipe juga berdiri, mencari celah di antara sesama penumpang. Hari itu saya akan ke rumah teman saya, di Serpong. Ceritanya, saya mau menumpang menginap di kosnya, karena keesokan pagi saya mempunyai acara kantor di kantor saya yang baru di Serpong.
”Vi, Fety boleh numpang nginap yah? Masalahnya, hari pertama masuk kerja, Fety ada acara di kantor Serpong. Fety gak punya saudara di Serpong.”, tanya saya pada saat istirahat setelah makan malam, ketika kami masih mengikuti acara orientasi sesama pegawai baru di Depok.
”Ehm, bolehlah.”
”Tapi, saya tidak tahu kosnya Evi di Serpong di mana? dan ke Serpongnya naik apa?”, lanjut saya bertanya.
Tanpa saya meminta dua kali, muslimah yang duduk di hadapan saya itu langsung menerangkan jalur KA yang harus saya tumpangi menuju ke Serpong. Tak lupa pula, dia membuatkan denah menuju ke kosnya, plus, menjelaskan angkutan yang harus saya naiki dari KA Serpong menuju kosnya.
”Nanti, kalo Fety dah sampai di gang kos saya sms atau miscal aja. Ntar saya jemput.”, katanya menutup perbincangan kami malam itu.
Akhirnya, menjelang magrib, saya tiba di kosnya.
”Langsung aja masuk ke kamarnya Mbak Evi, Mbak. Kamarnya Mbak Evi di atas. Hari ini Mbak Evi pulangnya menjelang Isya,” sapa ramah ibu kos Evi pada saya.
Benarlah, menjelang Isya, Evi pulang. Rasa capek dan lelah masih tergambar di wajah ayunya.
”Fet, maaf yah di kamar sendirian. Baru pulang nih dari dinas ke Jakarta. Udah makan malam?udah minum? Kalau belum, kita beli makan yuk!”
Perasaan bersalah tergambar jelas di wajahnya. Tanpa melepas lelah sejenakpun, dia langsung mengajak saya keluar untuk beli makan malam. Dan dia mentraktir saya malam itu.
***
Awal Juni 2006, suatu malam di Bandung
Sebuah pesan masuk ke handphone saya. Dari Nanae, teman saya ketika masih kuliah di Yogya. Sekarang, dia bekerja di sebuah BUMN di kota Bandung.
"Nga, udah di Bandung? Besok kita ketemuan yah?" begitulah bunyi sms-nya malam itu. "Boleh, janjian di depan kampus ITB yah," itulah jawaban dari saya untuknya.
Jadilah, sekitar jam sebelas siang esok harinya saya berjumpa dengan dia di depan kampus ITB.
”Mau ditemanin ke mana nih? Udah beli perlengkapan kos?” tanyanya setelah acara kangen-kangenan antara saya dan dia usai.
”Udah. Terserah deh mau ke mana,” saya tidak bisa menentukan pilihan karena saya baru menetap di Bandung sekitar satu minggu.
”Ok, deh. kalau gitu, kita jalan-jalan aja. Supaya kamu tahu jalan-jalan di kota Bandung,” katanya diiringi dengan senyuman manisnya.
”Eh, Nga, ntar kamu nginap di kosku aja yah,” pintanya.
”Boleh. Tapi, entar sore aku ditemanin pulang ke kos dulu yah untuk ambil baju ganti,” Dan diapun mengiyakan permintaan saya.
Akhirnya, hari itu, Nanae mengajak saya berkeliling Bandung dengan sepeda motornya. Malamnya, saya menginap di kosnya. Dan keesokan harinya, dia mengajak saya ke acara pengajian di daerah Gegerkalong. Menjelang Isya, Nanae mengantar saya pulang ke kos. Dua hari bersamanya, saya benar-benar diperlakukan seperti seorang tamu agung. Semuanya terungkap lewat jamuan makanan, cemilan, tempat tidur dan selimut yang diperuntukkannya untuk saya. Saya tahu, dia ingin saya merasa nyaman selama saya berada di kosnya
***
Pertengahan Juni 2006
”Fet, mau ditolongi ngomong ke Pak Atip tentang masalah uang itu?” tanya teh Ummi, rekan kerja saya di kantor.
”Boleh, teh. Fety malu. Nanti takut salah. Fety kan karyawan baru di sini”, jawab saya
Mendengar jawaban saya, saat itu juga, teh Ummi langsung menelepon Pak Atip dan menanyakan masalah saya ke beliau. Fety malu, Pak, begitulah canda muslimah itu di telepon. Dan selanjutnya, dengan lugas, dia menjelaskan ke Pak Atip mengapa dia membantu saya menanyakan hal itu.
Saya terdiam. Rasa syukur memenuhi segenap ruang hati saya. Pertolongannya siang itu telah membantu saya keluar dari masalah yang selama sekitar satu minggu ini hanya berputa-putar di kepala saya saja
***
Asni. Muslimah itu berasal dari Jakarta. Dia pernah kos di kos saya ketika saya masih Yogya. Hanya satu bulan. Waktu itu, dia memanfaatkan masa liburan kuliahnya dengan berpetualang ke Yogya.
Pertemanan dengan Evi terjadi karena saya dan dia berasal dari fakultas yang sama di suatu universitas ternama di Yogya. Namun, jurusan kita berbeda. Evi kuliah di jurusan kimia sedangkan saya kuliah di jurusan fisika. Dia dilahirkan dan dibesarkan di sebuah kota di Jawa Timur, Madiun. Pertemanan saya dan Evi terjadi karena kami mengambil mata kuliah yang sama di tingkat-tingkat awal saya kuliah.
Hari-hari bersama Nanae saya lalui ketika kami beraktivitas di organisasi kemahasiswaan yang sama ketika kami masih menyandang status mahasiswa. Purworejo, itulah kota tempat orangtuanya bertempat tinggal,
sampai dengan sekarang.
Begitu juga dengan teh Ummi. Saya baru mengenalnya. Dia adalah rekan kerja saya di kantor saya yang baru. Meja kami bersebelahan. Sayapun juga baru mengetahui, kalau muslimah ini berasal dari pulau yang sama dengan pulau kelahiran saya. Kita sama-sama perantauan di Bandung. Dia berasal dari Lampung sedangkan kota kelahiran saya adalah Bengkulu.
Sungguh, saya sangat terharu dengan cara keempat muslimah itu memperlakukan saya. Saya bukanlah saudara sekandung atau saudara sepupu mereka. Di antara kami tidak ada hubungan darah. Saya hanya teman mereka. Bukan teman karib. Hanya teman biasa.
Namun, saya yakin, hanya satu hal yang membuat Evi dan Nanae mau memperlakukan saya layaknya saudara kandung mereka. Hal itu pula yang menjadi alasan bagi Asni dan teh Ummi untuk tulus membantu saya ketika saya sedang berada dalam kesulitan. Islam, itulah jawabannya. Ah, sungguh indahnya ukhuwah dalam Islam. Bukankah antara sesama muslim itu layaknya suatu bangunan yang saling mengokohkan? Tidak mengenal batasan hubungan darah. Tidak mengenal batasan suku. Tidak mengenal batasan ras. Tidak mengenal batasan asal kota kelahiran. Tidak mengenal batasan golongan.
Rabbi, terima kasih Engkau telah mempertemukan hamba dengan saudari-saudari hamba dalam indahnya persaudaraan atas namaMu, hanya doa itu yang mampu terucap di hati saya.
Bandung, pertengahan Juli 2006
Saturday, July 15, 2006
Tuesday, July 04, 2006
Apabila telah tiba masaku
Apabila telah tiba masaku untuk segera mengakhiri lajangku
Dengan segenap kemampuan Allah berikan
Insyaallah janjiku segera ku tunaikan
Namun bila kuraba dalam hati
Datang seruntun pertanyaan silih berganti
Adakah semua kulakukan terlalu dini
Berdegup jantung di dada kendalikan diri
namun pernikahan begitu indah ku dengar
membuatku ingin segera melaksanakan
namun bila kulihat aral melintang pukang
hatiku selalu maju mundur di buatnya
Akhirnya aku segera tersadar
hanya pada Allahlah tempat aku bersandar
yang akan menguatkan hatiku yang terkapar
Insyaallah azzamku akan terwujud lancar
_____________________Suara Persaudaraan
Dengan segenap kemampuan Allah berikan
Insyaallah janjiku segera ku tunaikan
Namun bila kuraba dalam hati
Datang seruntun pertanyaan silih berganti
Adakah semua kulakukan terlalu dini
Berdegup jantung di dada kendalikan diri
namun pernikahan begitu indah ku dengar
membuatku ingin segera melaksanakan
namun bila kulihat aral melintang pukang
hatiku selalu maju mundur di buatnya
Akhirnya aku segera tersadar
hanya pada Allahlah tempat aku bersandar
yang akan menguatkan hatiku yang terkapar
Insyaallah azzamku akan terwujud lancar
_____________________Suara Persaudaraan
Antara Menikah Dan Sumber Penghasilan
Karya : Rr. Anita Widayanti, Spsi.
prayoga.net - Asw. wr. wb.
Ibu anita yang saya hormati, saya ada beberapa pertanyaan, saya mohon bantuan atas masalah saya ini. Usia saya 22 tahun, saya berasal dari daerah. sementara ini saya ada di Jakarta. Saya ke Jakarta untuk belajar perbaikan HP, tapi saat ini saya magang kerja di sebuah tempat service HP. Di daerah saya menjalin hubungan dengan seorang gadis. Kami sudah berhubungan sejak Februari 2005, dan pada bulan agustus 2005 saya dan dia bertungangan. Sudah enam bulan saya tidak bertemu dia sejak saya ke Jakarta tapi selalu bertanya kabar melaui telepon.
Perlu ibu ketahui, sebelumnya tunangan saya itu bekerja sebagai baby sister jauh dari rumah. Tapi semenjak kepergian saya, saya melarang dia bekerja dan memintanya diam di rumah dan sebagai gantinya saya mengirimi dia uang untuk kebutuhan sehari-hari. Alasan saya melarang dia bekerja karena saya takut terjadi hal negatif atas dirinya, sebab selama ini ada beberapa temannya yang bekerja tapi jadinya malah nggak baik.
Ibu Anita yang baik.
Sebenarnya saya sebentar lagi pulang ke daerah saya berniat membuka usaha di daerah saya, saya juga ingin segera menikahi tunangan saya itu, sebab saya nggak mau hubungan saya itu menarik saya pada perbuatan dosa. Namun ada beberapa hal yang membuat saya bingung. Saya bingung apakah harus menikah dulu kemudian buka usaha atau sebaliknya sebab saya takut nantinya usaha tidak dapat dijadikan sumber penghasilan yang bisa diandalkan. Selain itu saya bingung bagaimana menghadapi orang tua saya, sebab walaupun mereka merestui pertunangan saya, tapi mereka selalu menekankan agar saya sukses dulu baru menikah.
Sebenarnya saya ingin menikah dan menjalankan usaha bersama isteri saya. Ibu Anita, saya mohon ibu memberikan saya saran apa yang sebaiknya saya lakukan, sebab saya sendiri tidak tahu kenapa, selalu saja ada dorongan dari dalam diri saya untuk segera berkeluaraga. Tapi menghadapi kenyataan di atas membuat saya ragu dan bingung bagaimana pmecahannya.
Wassalamu'alaikum wr. wb.
Edwin
Jawaban
Assalammu'alaikum wr. wb.
Saudara Edwin yang baik,
Nampaknya memang tidak mudah ya memilih apakah menikah dulu atau mendahulukan sukses dalam usaha. Apalagi di zaman sekarang di mana segalanya serba mahal, tentu membangun keluarga dengan perekonomian yang pas-pasan membuat hati jadi getir juga. Idealnya memang pernikahan dilakukan setelah hidup kita sukses dan orang tuapun mengharapkan dan demikian memang harapan orang tua.
Namun dalam pandangan Islam pernikahan tidaklah selalu harus mengutamakan kemapanan terlebih dahulu. Dan dalam kondisi pergaulan serta godaan besar yang dialami para pemuda saat ini maka menjaga kesucian dan kehormatan memang seharusnya lebih diprioritaskan dibandingkan alasan lainnya.
Menjaga kehormatan serta kesucian sangatlah ditekankan bagi para pemuda, karenanya banyak hadist maupun ayat-ayat dalam al-Qur'an yang menyinggung masalah tersebut. Islam menyadari beratnya godaan untuk mendekati zina, karenanya mulai dari adab pergaulan kepada lawan jenis, melakukan puasa sampai menganjurkan pada pernikahan dijadikan anjuran bagi pemuda untuk membentenginya.
Oleh karena itu ketika ada seorang pemuda miskin, sahabat Rasulullah, yang ingin menikah maka Rasulullahpun langsung memudahkan prosesnya meski pemuda itu hanya bermodalkan mahar sebuah cincin besi. Hal ini karena Allah menjamin bagi pemuda yang menjaga kesuciannya dengan menikah maka Allah juga akan memudahkan dan menambahkan rizkinya dan jaminan manakah yang lebih dapat dipercaya oleh orang beriman selain dari Tuhannya?
Berdasarkan semua itu maka dari sudut pandang Islam anda sudah tahu jawabannya, bahwa Islam mengutamkan pernikahan demi menjaga kesucian. Ketika anda bertanya dapatkah isteri menjadi teman perjuangan membangun perekonomian, maka hal ini akan tergantung karakter isteri anda.
Jika anda menikahi wanita sholehah, maka seharusnya ia bisa mendukung anda untuk berjuang membangun rumah tangga dari nol. Bukankah indah berjuang menggapai sukses dalam hidup bersama isteri yang kita cintai? Jika keraguan masih kuat anda rasakan maka lakukanlah sholat istikharoh agar dimudahkan oleh Allah kecenderungan hati untuk memilih. Wallahu'alambishshawab.
Wassalammu'alaikum wr. wb.
Rr. Anita W.
Sumber : www.eramuslim.com
Komentar-komentar :
Sutomo - Jakarta
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Setelah membaca artikel yang disampaikan oleh saudara Edwin maka saya sangat setuju dengan pendapat yang disampaikan oleh Rr. Anita W. Hal ini mengingatkan saya ketika saya akan melangsungkan pernikahan. Ketika pernikahan saya sudah berumur 25 tahun dan pada saat itu saya juga baru selesai Kuliah. Bisa dibayangkan, ketika itu saya juga menghadapi permasalahan yang disampaikan oleh yaitu kematangan mental karena persiapan ekonomi yang serba pas-pasan. pada saat itu saya bekerja pada perusahaan swasta yang gajinya juga pas-pasan. Akan tetapi saya memberanikan diri melangkah pada jenjang pernikahan karena selain istri saya setuju dengan permasalahan yang saya hadapi (kondisi perekonomian) saya dan saya yakin bahwa keluarga akan lebih baik bila dimulai dari Nol secara bersama-sama, jadi senang susah dilakukan bersama-sama. Akan tetapi kita juga tidak bisa mengesampingkan rasional kita (tanpa persiapan ekonomi semata-mata) Seperti kisah seorang sahabat Nabi yang mau sembahyang tapi kudanya tidak diikat terlebih dahulu. Jadi kita harus tetap berusaha untuk mencukupi perekonomian akan tetapi Rizki yang mengatur adalah Allah SWT. Selain alasan diatas perlu kita ketahui bahwa kita tidak bolah takut akan kekurangan Rizki, Ketakutan sebenarnya hanyalah untuk Allah SWT semata. Kalau kita takut terhadap kekurangan Rizki bisa jadi kita tergolong musrik.
Setelah Kami menikah, Alhamdulillah kehidupan keluarga kami semakin kokoh dan kuat, serta dapat pekerjaan ke tempat lain yang lebih membuat kami tenang.
Wallahu'alambishshawab.
Wassalammu'alaikum wr. wb.
Sutomo
---------------------------------------------------------------------------------------
diambil dari http://www.prayoga.net
--------------------------------------------------------------------------------------
prayoga.net - Asw. wr. wb.
Ibu anita yang saya hormati, saya ada beberapa pertanyaan, saya mohon bantuan atas masalah saya ini. Usia saya 22 tahun, saya berasal dari daerah. sementara ini saya ada di Jakarta. Saya ke Jakarta untuk belajar perbaikan HP, tapi saat ini saya magang kerja di sebuah tempat service HP. Di daerah saya menjalin hubungan dengan seorang gadis. Kami sudah berhubungan sejak Februari 2005, dan pada bulan agustus 2005 saya dan dia bertungangan. Sudah enam bulan saya tidak bertemu dia sejak saya ke Jakarta tapi selalu bertanya kabar melaui telepon.
Perlu ibu ketahui, sebelumnya tunangan saya itu bekerja sebagai baby sister jauh dari rumah. Tapi semenjak kepergian saya, saya melarang dia bekerja dan memintanya diam di rumah dan sebagai gantinya saya mengirimi dia uang untuk kebutuhan sehari-hari. Alasan saya melarang dia bekerja karena saya takut terjadi hal negatif atas dirinya, sebab selama ini ada beberapa temannya yang bekerja tapi jadinya malah nggak baik.
Ibu Anita yang baik.
Sebenarnya saya sebentar lagi pulang ke daerah saya berniat membuka usaha di daerah saya, saya juga ingin segera menikahi tunangan saya itu, sebab saya nggak mau hubungan saya itu menarik saya pada perbuatan dosa. Namun ada beberapa hal yang membuat saya bingung. Saya bingung apakah harus menikah dulu kemudian buka usaha atau sebaliknya sebab saya takut nantinya usaha tidak dapat dijadikan sumber penghasilan yang bisa diandalkan. Selain itu saya bingung bagaimana menghadapi orang tua saya, sebab walaupun mereka merestui pertunangan saya, tapi mereka selalu menekankan agar saya sukses dulu baru menikah.
Sebenarnya saya ingin menikah dan menjalankan usaha bersama isteri saya. Ibu Anita, saya mohon ibu memberikan saya saran apa yang sebaiknya saya lakukan, sebab saya sendiri tidak tahu kenapa, selalu saja ada dorongan dari dalam diri saya untuk segera berkeluaraga. Tapi menghadapi kenyataan di atas membuat saya ragu dan bingung bagaimana pmecahannya.
Wassalamu'alaikum wr. wb.
Edwin
Jawaban
Assalammu'alaikum wr. wb.
Saudara Edwin yang baik,
Nampaknya memang tidak mudah ya memilih apakah menikah dulu atau mendahulukan sukses dalam usaha. Apalagi di zaman sekarang di mana segalanya serba mahal, tentu membangun keluarga dengan perekonomian yang pas-pasan membuat hati jadi getir juga. Idealnya memang pernikahan dilakukan setelah hidup kita sukses dan orang tuapun mengharapkan dan demikian memang harapan orang tua.
Namun dalam pandangan Islam pernikahan tidaklah selalu harus mengutamakan kemapanan terlebih dahulu. Dan dalam kondisi pergaulan serta godaan besar yang dialami para pemuda saat ini maka menjaga kesucian dan kehormatan memang seharusnya lebih diprioritaskan dibandingkan alasan lainnya.
Menjaga kehormatan serta kesucian sangatlah ditekankan bagi para pemuda, karenanya banyak hadist maupun ayat-ayat dalam al-Qur'an yang menyinggung masalah tersebut. Islam menyadari beratnya godaan untuk mendekati zina, karenanya mulai dari adab pergaulan kepada lawan jenis, melakukan puasa sampai menganjurkan pada pernikahan dijadikan anjuran bagi pemuda untuk membentenginya.
Oleh karena itu ketika ada seorang pemuda miskin, sahabat Rasulullah, yang ingin menikah maka Rasulullahpun langsung memudahkan prosesnya meski pemuda itu hanya bermodalkan mahar sebuah cincin besi. Hal ini karena Allah menjamin bagi pemuda yang menjaga kesuciannya dengan menikah maka Allah juga akan memudahkan dan menambahkan rizkinya dan jaminan manakah yang lebih dapat dipercaya oleh orang beriman selain dari Tuhannya?
Berdasarkan semua itu maka dari sudut pandang Islam anda sudah tahu jawabannya, bahwa Islam mengutamkan pernikahan demi menjaga kesucian. Ketika anda bertanya dapatkah isteri menjadi teman perjuangan membangun perekonomian, maka hal ini akan tergantung karakter isteri anda.
Jika anda menikahi wanita sholehah, maka seharusnya ia bisa mendukung anda untuk berjuang membangun rumah tangga dari nol. Bukankah indah berjuang menggapai sukses dalam hidup bersama isteri yang kita cintai? Jika keraguan masih kuat anda rasakan maka lakukanlah sholat istikharoh agar dimudahkan oleh Allah kecenderungan hati untuk memilih. Wallahu'alambishshawab.
Wassalammu'alaikum wr. wb.
Rr. Anita W.
Sumber : www.eramuslim.com
Komentar-komentar :
Sutomo - Jakarta
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Setelah membaca artikel yang disampaikan oleh saudara Edwin maka saya sangat setuju dengan pendapat yang disampaikan oleh Rr. Anita W. Hal ini mengingatkan saya ketika saya akan melangsungkan pernikahan. Ketika pernikahan saya sudah berumur 25 tahun dan pada saat itu saya juga baru selesai Kuliah. Bisa dibayangkan, ketika itu saya juga menghadapi permasalahan yang disampaikan oleh yaitu kematangan mental karena persiapan ekonomi yang serba pas-pasan. pada saat itu saya bekerja pada perusahaan swasta yang gajinya juga pas-pasan. Akan tetapi saya memberanikan diri melangkah pada jenjang pernikahan karena selain istri saya setuju dengan permasalahan yang saya hadapi (kondisi perekonomian) saya dan saya yakin bahwa keluarga akan lebih baik bila dimulai dari Nol secara bersama-sama, jadi senang susah dilakukan bersama-sama. Akan tetapi kita juga tidak bisa mengesampingkan rasional kita (tanpa persiapan ekonomi semata-mata) Seperti kisah seorang sahabat Nabi yang mau sembahyang tapi kudanya tidak diikat terlebih dahulu. Jadi kita harus tetap berusaha untuk mencukupi perekonomian akan tetapi Rizki yang mengatur adalah Allah SWT. Selain alasan diatas perlu kita ketahui bahwa kita tidak bolah takut akan kekurangan Rizki, Ketakutan sebenarnya hanyalah untuk Allah SWT semata. Kalau kita takut terhadap kekurangan Rizki bisa jadi kita tergolong musrik.
Setelah Kami menikah, Alhamdulillah kehidupan keluarga kami semakin kokoh dan kuat, serta dapat pekerjaan ke tempat lain yang lebih membuat kami tenang.
Wallahu'alambishshawab.
Wassalammu'alaikum wr. wb.
Sutomo
---------------------------------------------------------------------------------------
diambil dari http://www.prayoga.net
--------------------------------------------------------------------------------------
Subscribe to:
Posts (Atom)